Kamis, 13 Februari 2014
Rita Purbawati S.Pd, M.Pd
Yak, hari ini aku benar benar Ingat dengan sosok pengajar yang selalu hinggap pada pikiran
siswa-siswi sekolahku. Beliau seseorang yang sanagat lucu, ramah, serta baik
pada siswa. Sering sekali beliau memperjuangkan
hak hak siswa. Sehingga menurut kami beliau adalah seorang SuperHero. Tapi,
bagi sesamanya Ia tak jarang dianggap musuh. Karena jaman sekarang banyak
sekali yang menjadi guru. Tapi bukan gurunya manusia. Karena mereka tak dapat
memanusiakan manusia. Jadi mereka bukan gurunya manusia. Yap, guru itu adalah Ibu
(Almh.) Rita Purbawati S.Pd, M.Pd. Tepat setelah wisuda program magisternyanyalah
semua ini terasa.\
Pertama kali aku kenal beliau, beliau
adalah sosok yang biasa. Bahakan menjengkelkan tapi selalu bikin saya senyum
atau bahakan teratawa. Di awal perkenalan saya adalah waktu saya kelas 3 SMP.
Aku mengenalnya di sebuah institusi bimbingan belajar. Beliau sangat kritis
terhadap soal soal yang diujikan kepada kami. Menginjak tahun pertama menengah
atas. Saya takmenyangkan akan satu sekolahan bersama beliau. Saat itu saya
hanya bisa menebak nebak keliatannya saya pernah kenal guru ini tapi dimana ya?
. Sejenak aku mengingat dan ternyata aku tak ingat.
Yang
lebih tak ku sangka beliau menjadi wali kelasku. Sungguh tahun pertama yang
sangat mengejutkan sekaligus menggelikan. Aku pun pindah ke kelas akselerasi
waktuitu masih ada. Aku sudah mulai paham dengan akselerasi dan apa apa yang
ada didalamnya. Waktu berlalu begitu saja,
akhirnya aku tak kuat untuk menahan rasa ingin keluar dari kelas percepatan
itu. Maka, ceritalah aku ke wali kelasku yang dulu (Bu rita) karena aku merasa
tak nyaman dengan waliku yang baru (Pak Imron).
2 minggu kemudian aku dipanggil oleh
Pak Imron mengenai keluarnya aku. Emang sih sedih meninggalkan teman teman
hebat yang ada di aksel. Tapi aku lebih mengedapankan perkembangan psikis,
tingkat stress, dan manajemen tugasku serta soft
skill ku dalam berorganisasi berhubungan waktu itu. Siswa aksel secara
tidak langsung dilarang mengikuti pola pelatihan pengembangan karakter, minat,
bakat atau yang disebut Berorganisasi.
Aku kembali ke kelasku yang dulu. Pandanganku
tetap tidak berubah karena aku masih memandang diriku rendah dan tak berharga. Dan
dipilihlah aku menjadi ketua kelas berdasarkan usulan bu rita ini. Selain menjadi
wali kelas, beliau juga menjadi pengawas teater yang saat itu adalah
pengembangan bakat yang saya ikuti. Sejak saat itulah hubungan ini terbina
dengan sendirinya. Selama awal tahun menengah ini aku sering bolos. Sungguh,
terlalu sering tidak masuk karena malas sekolah. Malas ini bukan tanpa sebab
sebenarnya tapi karena aku punya sejenis gangguan jiwa yaitu skizofrenia. Dan tak
pernah ada yang tau kecuali beberapa orang sebelum saya menulis ini.
Beberapa ketidakmasukanku ada suratnya
karena diminta oleh guru yang lain. Tapi total ada sekitar sebulan bolosku ini.
Aku menyebutnya bolos karena menurutku orang yang normal akan mengira aku sehat
secara fisik. Makanya aku bicara disini menggunakan bahasa berpikirnya para
orang yang normal. Aku sudah mengira tak akan naik kelas. Seandainya aku naik
kelas rasanya itu benar benar sebuah keajaiban tuhan yang diberikan kepada saya
melalui malaikatnya sehingga bisa merubah goresan tinta berupa huruf “A” yang
berarti alpha bisa berubah.
Hari penerimaan raport merupakan hari
yang sangat mengerikan bagi saya. Bagi anak lain penerimaan raport bisa diambil
karena orang tua mereka masih ada dan mau ngurusi anaknya. Tapi tidak dengan
saya. Saya merasa sangat berat untuk mengambil hasil studi saya selama satu
tahun itu. Akhirnya saya memberanikan diri mendekati kelas dan mulai mengintip
apa yang terjadi dalam kelas. Ternyata ada pengarahan dari wali kelas kepada
wali murid yang saat itu hadir. Saya hanya menguping dari luar saja. Setelah
semua wali murid saya lihat sudah keluar semua. Saya baru berani menemui bu
rita di dalam kelas yang saat itu menunggu wali murid lain yang mungkin akan
hadir mengambil hasil studi anaknya tercinta.
Di dalam kelas saya benar benar merasa
malu saat beliau bertanya “Lho, bapak dimana to nul?” serasa ditelanjangi
didepan umum tapi dengan senyum dan sakit hati saya bilang, “bapak lagi kerja,
bu. Mboten(tidak) saget(bisa) diganggu”. Sedangakan beliau hanya menepuk bahu
saya sambil berkata, “iyo le, aku paham kok. Sabar ya.” Lalu saya hanya miris
lalu salaman dengan bu guru lalu lari meninggalkan kelas. Nilaiku saat itu
merupakanyang tertinggi ke dua dari bawah. Dan tak ku sangka kertas itu
menyatakan aku berhak naik kelas.
Air mata ini menetes saat aku
membukanya lalu membacanya. Benar benar seorang malaikat tuhan dari langit yang
telah merubah absenku. Subhanalloh banget. Saat itu aku masih tak tau siapa
malaikat berwujud manusia yang telah membantu seorang lelaki lemah sakit sakitan
dan selalu ngeles tiap ditanya sakit apa ini. Seakan masih tak percaya akan
keajaiban yang terjadi. Aku masih membacanya ketika malam datang dan masih saja terharu.
Naiklah aku ke kelas ke dua menegah
atas. Pada tahun ini wali kelasku bu rita lagi. Entah kenapa. Rasanya seperti
ditakdirkan untuk bertemu lagi padahal dalam penentuan wali kelas selalu
diacak. Hari hari berlalu biasa saja bahkan lebih buruk. Di tahun kedua ini aku
malah lebih sering kambuh. Intesitasnya itu lebih tinggi daripada waktu kelas
pertama. Emang sih kata psikiater itu akan mulai nampak pada umur tujuh belas
tahun dan akan semakin terlihat jelas saat umur semakin bertambah. Saat itu aku
masih rutin minum obat penenang padahal. Semester tiga ini terasa lebih berat
daripada semester sebelumnya. Sungguh tak bisa ditebak kejadianya. Sepertinya hidup
memang seperti itu. Tapi entahlah.
Naiklah ke semester berikutnya.. yakni
semester keempat ini adalah masa masa sulit. Bahkan tersulit. Tapi sangatlah
terkenang. Karena ada tugas yang dapat mengentalkan kekerabatan pertemanan
kami. Bersambung…
