Kamis, 29 Mei 2014

Tips Mengelola Gangguan Jiwa dalam Berbagai Keadaan

Mungkin nggak bisa digeneralisir, & ini hanya dari pemikiran saya saja, dari sudut pandang ODS yang sudah pulih.

1. Belajar menahan diri

Saat meminta sesuatu, biasanya ods tidak sabaran karena selalu ingin cepat mendapatkannya atau memaksa orang lain agar keinginannya cepat terpenuhi. Jika tidak segera terpenuhi punya kecenderungan mudah marah-marah atau emosi.
Saran buat caregiver, belajarlah untuk mencoba mengulur waktu, jangan langsung dipenuhi apa yang diminta, katakan padanya dengan sopan tapi tegas bahwa sedang disiapkan. Mencoba untuk mengulur waktu sama halnya mengajari si penderita untuk belajar sabar….sedangkan buat ODS, belajarlah untuk menunda sebentar apa yang sudah kamu minta. Tunggulah sesaat, misalnya jika meminta sesuatu tunggulah 10-15 menit jika belum mendapat respon, jika sudah lewat waktu itu cobalah untuk minta lagi. Proses ini adalah proses belajar menyabarkan diri buat ODS.

2. Memberi apresiasi

Belajarlah untuk selalu memberi apresiasi buat beberapa hal sederhana yang telah bisa dilakukan ODS. Saat minum obat misalnya, berikan pujian walau sekedar kasih tanda jempol saat ODS baru saja minum obat. Itu sama halnya memberikan tanda persetujuan & apresiasi atas tindakannya yang benar. Jangan setiap minum obat adalah saat-saat yang biasa-biasa saja bagi keluarga. Peran obat memang penting buat ODS, tapi sadarkah keluarga yang lain bahwa setelah minum obat si ODS akan mengalami kondisi yang kurang enak karena mengantuk, kepala berat dll, itulah perjuangan buat ODS yg mungkin kurang disadari oleh keluarga. Memberikan apresiasi berupa tanda jempol, tepukan dipunggung atau menyediakan air minum/obat atau menemaninya minum obat adalah saat berkesan buat ODS dan juga tanda nyata dukungan atas perjuangannya melawan efek obat yang ngga ringan. Seandainya diperbolehkan dokter, coba deh salah satu keluarga yang sehat minum obat 1X saja seperti yang dikonsumsi si ODS dan coba rasakan efeknya kemudian.
Sekedar cerita, saya pernah berada di sebuah aula yang besar di tempat kerja saat semua karyawan berkumpul untuk sebuah acara khusus menjelang jam makan siang. Disaat semua karyawan mendengarkan pidato boss besar, saya malah lagi berat-beratnya menahan diri supaya ngga pules tertidur. Padahal saya sudah minum obat sejak pagi hari, nah obat yang saya minum saat itu adalah 3X sehari..itu artinya selama +/- 6 bulan saya harus berjuang keras melawan pengaruh obat yang memberatkan kepala & sangat mengganggu dalam bekerja…

3.Belajar keluar

Membiarkan ODS selalu berada di dalam rumah/kamar dalam waktu lama tidak akan mengangkatnya berada dalam kondisi yang lebih baik. Dan membiarkannya selalu sendirian akan membuatnya makin tenggelam, walau bagi ODS kamar adalah daerah yang sangat nyaman. Bagi keluarga, berinisiatif utk sering mengajaknya keluar rumah adalah hal yang sangat baik. Bertemu dengan keluarga/saudara2 yg lain dlm arisan misalnya sm halnya membuatnya “belajar diluar”. Hanya saja sebagian besar (mungkin) ODS cenderung tidak nyaman berada dalam situasi ramai. Bgm menyiasatinya ? ODS mungkin akan nyaman jika diberi kesibukan atau pengalih perhatian saat berada dalam situasi banyak orang atau ramai, daripada ikut terlibat pembicaraan dalam komunitas yang ramai tsb. 
Kalau saya, saya akan menyibukan diri dgn bermain sama anak-anak yg msh kecil daripada gabung ngobrol2 dgn orang dewasa dan buat saya ini sangat efektif dlm membuat sy nyaman. Solusi yg lain bisa jg diambil, yaitu pilihlah salah seorang dari yang hadir utk menemaninya ngobrol, tentu saja yg orangnya bisa “asyik” dgn si ods dan jangan sembarang orang. Biasakanlah hal tsb dan ini akan membuatnya senang & nyaman dgn keberadaannya di lingkungan yg ramai tsb. Pada akhirnya, sy jg bisa & terbiasa bergabung dgn semuanya..

4.Memberikan/punya tanggung jawab

Penderita atau ODS akan sulit pulih jika diabaikan dalam arti dia merasa tidak dibutuhkan atau tidak merasa punya tanggung jawab apapun dalam keluarga. Maka ODS perlu dilatih untuk punya tanggung jawab (atau mungkinkah dipaksakan utk punya tanggung jawab buat hal2 khusus??). Kalo buat saya pribadi, saya memaksakan diri bahwa saya harus jadi pribadi yang bertanggung jawab……saya sih berpikiran bahwa sejak punya KTP berarti saya punya porsi besar dalam bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri……jadi ODS memang sebuah beban berat tetapi punya tanggung jawab dalam hal2 tertentu tetap jadi keharusan karena nggak akan selamanya-kan keluarga/caregiver jadi tempat berteduh.
Buat yang sudah bekerja, menurut pengalaman & pemahaman saya (ngga harus sama ya), bekerja adalah sebagian dari pelepasan energi jiwa juga & ini adalah bagian penting dari terapi. Ada sesuatu yang agak berbeda bahwa ODS itu mampu bekerja atau punya usaha, walau buat orang normal sih, bekerja itu hal biasa & memang harus. Hambatan yang saya hadapi saat bekerja adalah sisa pengaruh obat yang dikonsumsi malam hari sebelumnya, makanya bangun dari tidur bangun dari tidur sudah merupakan perjuangan awal buat ODS. Nah, makanya keluarga mesti bijak-bijak bersikap saat ODS-nya susah bangun tidur untuk bekerja. Menegur dengan tidak tepat malah akan membuat ODS mungkin kesal & memproteksi diri dengan terus tidur aja…(nah, istri saya nggak maksa-maksa kalo saya agak males bangun). Masalah saya yang lain lagi adalah sering kehilangan mood dalam bekerja, bahkan kerjaan ringanpun malas dikerjakan, tapi kalo mood baik maka kerjaan banyakpun oke-oke saja. Makanya mood si ODS mesti dijaga baik saat dia berangkat kerja. Nah, salah satu cara saya jaga mood baik adalah harus cium anak-istri waktu mau berangkat kerja.
Hal lainnya, berikan apresiasi yang berbeda untuk ODS setelah kembali bekerja. Orang lain kan ngga terlalu tahu apa saja yg terjadi dalam dunia kerja yang dihadapi ODS, karena terkadang masalah sering disimpannya. Kalo yang normal sih, punya kapasitas atau pola sikap yang lebih kuat dalam menanggung beban masalah dalam pekerjaan. Dimarahin atasan atau masalah lainpun (dicuekin misalnya) dampaknya agak besar buat ODS, makanya mungkin banyak ODS yang kurang tahan dalam dunia kerja. 
Saya pernah ngalamin hampir dalam waktu yang cukup lama seperti dalam kondisi "jobless", & akirnya hanya menantikan jam makan siang & jam pulang kerja, karena bĂȘte berat & ingin cepat-cepat tidur pules di rumah. (tapi sekarang sudah ngga lagi).
Jadi mempertahankan pekerjaaan tidak semata tugas ODS sendirian, peran keluarga dalam memotivasi atau sering jadi penampungan curhat ODS mesti optimal bahkan mesti agak lebih. Jadi pada intinya,berikan apresiasi buat ODS yang bekerja, karena bekerja atau bertahan kerja atau punya usaha lainnya itu luar biasa buat ODS. Perubahan kearah positif sekecil apapun mesti disyukuri & dibanggakan dan nyatakan itu secara tepat kepadanya, pasti itu akan lebih membangun semangat hidupnya..karena bekerja juga bagian interaksi sosial buat ODS buat belajar bersikap dengan wajar.

Salam Sahabat
Salam Sehat Jiwa

Sumber : https://www.facebook.com/groups/268049369901885/permalink/553198324720320/

Rabu, 28 Mei 2014

Benang tipis antara datang dan pergi

         Sejak saat itu.. tepatnya tanggal 12 Mei 2014.. Semua berawal dari sana. awal dimana semua kebimbangan datang dan menyergap dari segala arah. Semua suara berpadu menjadisatu agar aku berhenti dari dunia yang tak seharusnya aku jalani ini. Aku bukan tipe orang yang bisa diatur oleh rumus inilah itulah. Tapi aku dipaksa untuk menjadi seperti itu. Benar benar merasa berada di puncak kejenuhan. Akhirnya aku putuskan untuk berhenti masuk kuliah. Pagi itu akupun pulang tanpa memberitahu orang rumah tentang kondisku sekarang. Selain aku pulang untuk meng iyakan pikiran ini. Aku juga harus pulang untuk mengantar kan saudara yang dalam kondisi mendesak penting. Pada tanggal itu pula ternyata diadakan quiz (semacam ulangan harian sewaktu SMA) berjumlah 3 Matkul kayaknya. Sudah tidak ada fikiran pengen masuk kelas itu lagi. Apalagi menginjakkan kaki di Universitas itu. entah kenapa perasaan dan pikiran itu ada. Mungkin karena aku tidak dalam kondisi seharusnya.
           Menjelang sore. Semua tampak biasa dari luar. Aku juga menjalankan hariku dengan tampak biasa sekali. Tapi orang yang ramai di kerumunan atas kepalaku tak mau juga diam. Kesabaranku terus diuji. Karena, capek denga kondisi seperti itu. Aku memilih tidur panjang dengan alasan perjalanan yang melelahkan saat di tanya orang rumah nanti.
          Keesokan harinya semua tampak sama. Tak ada yang berbeda tetap ramai. Bising sekali. Di pagi yang cerah dan melegakan hati karena tak berada di panci bertekanan yang siap mem-presto ideologi anda yang ga bener soal mahasiswa itu. Benar benar merasa bebas. Aku memutuskan untuk jalan jalan ke Gorang - gareng, Magetan. Aku berharap dapat pencerahan dari sepinya makam, Suara angin yang bernyanyi diantara padi padi hijau yang baunya basah basah segar itu. Sesampainya disana benar benar tak seperti yang diharapkan. Aku hanya mendapatkan terik matahari yang begitu panas. Aku putuskan disana hanya untuk makan di warung tepat pinggir sawah dimana aku sedang bertengger. Sayup sayup suara adzan kudengar dan aku beranjak pulang ke rumah. Lagi lagi aku berhenti tepat di daerah madigondo, magetan. Disana aku berharap mendengar suara angin tadi. dan akhirnya aku mendapatkan suara dan hembusan segar itu.yang kudapat diantara bayangan pohon senja yang mebuat pemandangan jalan menuju madiun-magetan tampang clong-clong. Dan hari itu juga tak berkesan lagi.
          Lagi lagi kesendirian ini bisa membunuhku. Rasanya ingin menjadikan imajinasiku atau bayangan semu-ku itu sahabatku saat aku ngapain aja. merasa apa aja, dan sedang apa aja. Lagi lagi aku harus membuat benteng antara aku dan "dia". 

Bayanganku, Imajinasiku..
Apa tak kau sudahi saja membayangiku seperti ini..
Memang benar aku tak bisa hidup tanpamu..
Kau yang selama ini menemani kesendirianku..
Tapi kau juga yang membuat diriku menjauh dari dari mereka..
Tak adakah yang kau kerjakan lain selain ini..
Selain mejauhkanku dari kehidupanku yang nyata..
Aku ingin..
Hidup seutuhnya, Wahai suara dan bayang semu..
Hidup seutuhnya sebagai manusia yang wajar..
Kau boleh hadir..
Tapi jangan kau usik aku..
Aku berhenti minum obat penenang..
Berhenti bicara saat tak ada yang kau sebut pengganggumu itu..
Manusia itu temanku..
Biarkan aku hidup seperti layaknya manusia..
Kalau manusia itu pengganggumu..
Musuhmu..
Jauhi dia.. Jauhi aku..
Aku juga manusia..
Yang tak ingin kau ganggu..
Kita bisa hidup dengan damai tanpa saling mengganggu..
Kau begitu indah..
Akan lebih indah saat kau pergi..
Aku memang akan merindukanmu..
Itu bukan berarti kau boleh kembali..
Pergilah..
Aku mohon..
Tuhan bantu aku..

Hari ini tanggal 28 Mei 2014, 

Kau kembali dengan berjuta kenangan indah.. 
Saat aku melalui masa beratku dulu..
Ingin rasa menerima kamu kembali..
Tapi..
Itu HARAM dan tak boleh dilakukan..
Hiduplah dengan duniamu..
Aku punya dunia sendiri..
Imajinasiku, datnglah saat aku berkarya..
Pergilah saat aku menjalani kehidupan..
Karya sastra, Karya lukis, Karya lisan..
Hadirlah disana..
Jadikan semua indah pada tempat dan waktu..
Yang ditakdirkan tuhan..
Dan kupilihkan untukmu..
Salam rinduku..

Hati ini sedikit lega setelah aku menuliskanmu cerita ini. Kau tersenyum juga kan melihatku. Aku melihatmu dengan cara yang berbeda.. Keluarga.. Psikiater.. Selalu ingin membunuh mu.. Aku tak tega kau pergi jauh.. Kau teman tapi musuh.. Aku benci tapi rindu sama kamu.. Sudah 3 Minggu aku ga masuk kuliah.. Entah ini karena kamu atau bukan.Yang penting rame sekali disini.. Jangan bawa temen temen kamu kesini.. ya.. Kamu boleh kesini.. Bawain cinta ama ketulusan.. Jangan lupa bawain air penghilang nafsu ingin memiliki dan nafsu ingin mengikat.. teman teman kamu yang namanya dendam, masa lalu, kebencian, kemunafikan, Jangan di bawa lagi.. Eh, tapi kenapa iri, minder, dan cemas juga kamu ajak? Suruh pulang. Bilangin ama dia.. Aku lagi ga butuh itu buat kuliahku.. Aku sayang kamu.. Aku tak bisa memungkiri itu.. Tapi aku juga tak bisa memungkiri bahwa aku ingin menjadi manusia.. Ingin mencintai.. Meski wanita adalah makhluk yang tak kau sukai.. Aku tetap selalu mungkin mendapatkan yang lebih dari kamu, sayang.. Entah perhatiannya, kasih sayangnya, waktunya dan juga pengorbanannya :D  Si pemalas suruh pulang yaa.. Aku ga mau lagi dia ada..

Selamat Sore..
Salam Sehat Jiwa..
Dari sini..

Senin, 21 April 2014

Tips agar tetap bahagia saat single


Banyak orang yang mengidentikan single dengan gambaran sedih, galau, murung, kesepian dan hal-hal suram lainnya. Padahal tidak selamanya single itu menyedihkan kok, Sobat! Banyak lho orang-orang yang selalu terlihat ceria dan bahagia meskipun tidak memiliki pasangan. Adakah Sobat Gemintang yang saat ini berstatus lajang? Jangan khawatir, Gemintang akan memberikan tips-tips supaya kamu tetap bahagia meskipun berstatus single!
1. Tetap santai dan jangan terburu-buru
Status lajang? Jangan dibawa pusing deh. Santai aja! Status single itu tidak akan berlangsung selamanya kok. Kamu hanya perlu menunggu dan bersabar, tidak perlu terburu-buru mencari pasangan jika memang belum siap. Si dia pasti akan segera datang dan pastinya di waktu yang tepat, Sobat.
2. Buang jauh-jauh pikiran negatif
Mungkin ada saatnya kamu merasa sendirian dan kesepian saat sedang menyandang status lajang. Tapi percayalah bahwa hal tersebut tidak selamanya menyedihkan. Ubah mindset kamu tentang pengertian lajang atau single. Jangan selalu melihat sisi negatif tentang lajang itu sendiri, cobalah lihat sisi positifnya. Dengan menyandang status single kamu bisa bebas berteman, beraktivitas dengan banyak orang tanpa terikat dengan pacar dan tak perlu merasa takut ada yang marah atau cemburu. Asik, bukan?
3. Terbuka dengan orang orang baru
Selagi kamu sedang single, kamu bisa lebih terbuka dan menerima orang-orang baru disekitarmu. Menikmati status single bukan berarti melewatkan kesempatan untuk bertemu dengan orang yang tepat, kan? Sambil menyelam minum air. Lumayan lho, siapa tahu ada Mr. atau Ms. Right untukmu.
4. Mensyukuri apa yang kamu miliki sekarang
Single? Syukuri saja Sobat! Ada banyak orang-orang di luar sana yang sudah sangat jenuh dengan hubungannya tapi tidak bisa lepas dari pasangannya. Kamu juga harus mensyukuri telah diberikan kesempatan mengetahui bahwa kamu kemarin sedang bersama dengan orang yang tidak tepat. Dan yang terpenting, syukuri kebebasan yang kamu miliki!
5. Keluar dari zona nyamanmu
Single adalah kesempatan dimana kamu bisa lebih mengeksplore diri kamu, jangan jadikan status single sebagai alasan untuk bermalas-malasan dan mengurung diri dikamar apalagi tidak memperhatikan diri sendiri. Keluar dari zona nyamanmu dan lakukan hal-hal yang tidak bisa kamu lakukan saat masih memiliki pasangan.

Sumber : http://gemintang.com/cinta/tips-agar-tetap-bahagia-saat-single/

Minggu, 20 April 2014

Alhamdulilah Lolos SBMPTN

Sudah terhitung sembilan bulan sejak pertama kali urbanisasi ke kotany arema ini. Syukur banyak pelajaran kehidupan yang bisa diambil selama disini. Semua fase ospekpun terlewati dan rasa syukur sudah lepas dari ospek masih melekat pada kami yang masih maba ini.Sebuah mimpi mulai terwujud satu persatu saat kita pasrah. Dan satu persatu mimpi mulai pudar dan gagal untuk dicapai lagi karena penghambaan diri kepada tuhan sangatlah kurang. Saya cuma ingin bercerita soal satu mimpi yang telah menjadi nyata itu sehingga, saat ini benar benar aku jalani dalam hidup ini. "Lulus tahun ini, Lulus UAN, SBMPTN 2013 LOLOS, Kuliah tahun ini" Tulisan ini masih ada dalam kertas kertas yang mulai usang.

Memang sejak SMA naik tingkat menjadi mimpi - mimpiku.Mungkin bagi orang lain itu hanya harapan bagi saya itu lebih. Awal sekolah saya semasa SMA penuh dengan kejutan sehingga saking terkejutnya anda hanya bisa menertawakan diri anda sendiri. Hidup saya selama SMA benar benar penuh kejutan. Yap, diawali dengan diterimanya aku pada tahun 2010 untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang menengah atas. Sungguh mengesankan dengan nilai yang sangat minim masih bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya karena melihat, merasakan pada banyak teman teman saya yang tidak melanjutkan pendidikan mereka dengan alasan pacaranlah, kerjalah, hamilah, maleslah. Sungguh alasan yang sangat klasik sekali saat mendengar “pacaran dengan serius”. Saat mendengar ada yang tidak lanjut karena alasan ekonomi hati saya sangat miris. Bagaimana orang tuanya menanamkan soal pendidikan pada anaknya, bagaimana bisa orang tuanya membebankan ekonomi keluarga pada anak yang masih SMP ini. Kala itu saya hanya bisa terenyuh, kasihan dan hanya bisa berdoa supaya tuhan selalu menjagamu dan menjadikanmu sholih, dan paling mencengangkan adalah saat mendengar angkatan saya sudah ada yang hamil. Sungguh hal ini terjadi ‼ moral remaja, pelecehan seksual, seks bebas benar benar merebak dan mekar dalam setiap lapisan masyarakat. Saat itu saya berpikir bagaimana itu bisa terjadi, Bagaimana bisa hingga hamil? Maklum dulu saya adalah orang yang ga paham ama “begituan” sekarang mah jangan Tanya wkwkw.. becanda kawan..Sebuah alas an yang tidak logis untuk memberhentikan anak agar tidak sekolah untuk alasan hami dan malunya keluarga terhadap masyarakat sekitar. Tetap saja pendidikan itu PENTING ‼. Katakanlah kita tidak bisa menghindari adanya perkembangan social yang negative seperti itu tapi kita akan selalu mungkin untuk mencegah hal semacam itu terjadi. Fase menengah pertama sungguh sangat dangerous. Dan yang lebih parah saya benar benar tercengang saat ada yang mengatakan MALES PADA SEKOLAH ‼. Bagaimana bisa dia mengatakan seperti itu sedangkan dia tak paham apa yang ia katakan. Untuk yang ini saya tidak bisa berkomentar ini murni karena ada niat dari pelakunya waspadalah waspadalah !

Selama menjadi siswa menengah atas tahun pertama. Aku mengalami guncangan, kejutan yang sangat hebat, keras. Aku diterima menjadi siswa akselerasi saat itu. Berita itu sungguh sesuatu sekali :D . selama menjalani masa akselerasi aku ada target untuk mengeksplorasi bagaimana aksel itu, bagaimana perkembangan psikologis mereka, bagaimana cara mereka menyikapi suatu permasalahan, dan sebagainya. Setalah mendapatkan semua informasi dan sudah menimbang nimbang. Aku memutuskan untuk kembali ke kelas regular. Oh ya selama di aksel itu saya menjadi siswa rangking 1 dari bawah lho asal para pembaca tau :D saat pindah ke regularpun nasib tak berubah L . Setahun itu aku menjalani masa penyembuhan dan pengobatan terhadap gangguan jiwa saya. Sungguh berat saat kalian sebagai manusia normal di pagi hari bisa semangat dan ceria. Saya harus selalu minum obat penenang yang menjadikan aku tampak lesu dan lemas sekali. Obat itu biasa bereaksi selama 4 jam sejak obat dikonsumsi. Selama setahun pula saya sering bolos karena kambuh dan itu tak diketahui banyak orang tapi dipahami dan tak cuma diketahui yaitu wali kelasku benar benar saya dibebaskan absen saya. Entah kenapa saat mendengar bahwa saya naik ke fase kedua menengah atas saya masih setengah tidak percaya dan menampar pipi saya dan mencubit pipi saya berharap ini semua bukan mimpi. Naiklah aku ke fase kedua dan disini aku mulai bisa membenahi diri dengan pengendalian imajinasi dan mengurangi konsumsi obat penenang serta mengikuti organisasi guna memperbaiki cara berkomunikasi. Ini fase terindah karena banyak relasi yang terkumpul dan terjalin. Sama seperti fase satu hanya saja jumlah bolos saya karena saya kambuh berkurang. Saya sangat bersyukur soal itu. Dan lebih bersyukur lagi ternyata wali kelasku di fase dua ini sama seperti fase satu. Saya semakin cinta sama wali kelas ini. Mungkin dia adalah tangan tuhan yang dikirim oleh tuhan. Bahkan ibu saya sampai berkata, “Kalo sampai nak, tahun ini kamu naik kelas sungguh sebuah keajaiban mendatangi ibu lagi.” Kata kata ini sungguh menancap pada diri saya hingga akhirnya kejadia itupun datang. Saya hanya bisa menangis terharu. Alay mungkin tapi ini tidfak ada unsur berlebihan. Lebih lebih saat saya mendengar saya naik dan ada yang menjabat tangan saya lalu mengatakan “Selamat ya”. Saya hanya bisa berkata, “Ini semua magic dengan trick tuhan, doa ibu dan usaha bu rita(wali kelas)”. Dan saatnya nai ke fase ketiga. Ini adalah fase puncak klasemen tingkat akhir pada sekolah menengah atas. Sejak masuk di fase ketiga ini intesitas dan total bolos semakin berkurang sekali. Bahkan waktu untuk tidurpun berkurang.hanya karena aku punya mimpi yang lebih gila yaitu ingin diterima di perguruan tinggi terbaik di Nusantara tercinta ini. Institut Teknologi Bandung. Sejak awal saya mulai belajar soal soal, tips and trick agar bisa masuk ke sana. Hingga akhir fase tiga masih memimpikan sana. Hingga akhirnya saya pun tidak sempat belajar soal soal UN sehingga UNku pun menjadi rangking 5 dari bawah L. Saya masih bersyukur saya lulus. SNMPTN boleh gagal tapi mimpi saya yang sangat tinggi mengantarkan saya pada target selanjutnya yaitu kuliah tahun ini. Kenapa? Karena saya lolos sbmptn dan sekali lagi itu keajaiban tuhan. Untuk kalian yang merasa lemah, bodoh, serta masih minder. Percayalah pada keajaiban tuhan dan keberuntungan.


Sabtu, 19 April 2014

Idealis Spontan

Tipe Idealis Spontan adalah orang-orang kreatif, periang, dan berpikiran terbuka. Mereka penuh humor dan menularkan semangat menikmati hidup. Antusiasme dan semangat mereka yang menyala-nyala menginspirasi orang lain dan menghanyutkan mereka. Mereka menikmati kebersamaan dengan orang lain dan sering memiliki intuisi yang jitu mengenai motivasi dan potensi orang lain. Tipe Idealis Spontan adalah pakar komunikasi dan penghibur berbakat yang sangat menyenangkan. Keriaan dan keragaman dijamin saat ada mereka. Namun demikian, kadang-kadang mereka terlalu impulsif saat berhubungan dengan orang lain dan dapat menyakiti orang tanpa bermaksud demikian, karena sifat mereka yang blak-blakan dan terkadang kritis.

Tipe kepribadian ini adalah pengamat yang tajam dan awas; mereka tidak akan ketinggalan satu kejadian pun di sekitar mereka. Dalam kasus ekstrem, mereka cenderung terlalu sensitif serta waspada berlebihan dan dalam hati siap melompat. Kehidupan bagi mereka adalah drama yang menggairahkan penuh keragaman emosi. Namun demikian, mereka cepat menjadi bosan ketika hal-hal terjadi berulang dan dibutuhkan terlalu banyak detail serta ketelitian. Kreativitas, daya khayal, dan orisinalitas mereka paling mudah dikenali ketika mengembangkan proyek atau ide baru – kemudian mereka menyerahkan seluruh pelaksanaan rincinya kepada orang lain. Secara singkat, tipe Idealis Spontan sangat bangga akan kemandiriannya, baik di dalam diri maupun yang tampak dari luar, dan tidak suka menerima peran bawahan. Oleh karena itu mereka memiliki masalah dengan hirarki dan otoritas.

Jika Anda memiliki tipe Idealis Spontan sebagai teman, Anda tidak akan pernah bosan; bersama mereka, Anda dapat menikmati kehidupan sebaik-baiknya dan merayakannya dengan pesta-pesta terbaik. Di saat bersamaan, mereka hangat, peka, penuh perhatian, dan selalu bersedia membantu. Jika seorang Idealis Spontan baru jatuh cinta, langit dipenuhi biola dan pasangan mereka akan dihujani perhatian dan kasih sayang. Tipe ini kemudian berlimpah dengan pesona, kelembutan, dan imajinasi. Namun, sayangnya, begitu kebaruan itu luntur dengan cepat akan membosankan bagi mereka. Kehidupan berpasangan sehari-hari yang membosankan tidak cocok untuk mereka sehingga banyak tipe Idealis Spontan keluar-masuk percintaan sesaat. Namun demikian, jika pasangannya bisa membuat rasa ingin tahu mereka tetap hidup dan tidak membiarkan rutinitas dan keakraban melanda, tipe Idealis Spontan dalam menjadi pasangan yang menginspirasi dan penuh kasih sayang.

Sifat-sifat yang menggambarkan tipe ini: spontan, antusias, idealis, ekstrovert, teoritis, emosional, santai, ramah, optimis, memesona, suka membantu, mandiri, individualis, kreatif, dinamis, periang, humoris, penuh semangat hidup, imajinatif, mudah berubah, mudah menyesuaikan diri, setia, peka, menginspirasi, mudah bergaul, komunikatif, sulit ditebak, ingin tahu, terbuka, mudah tersinggung.

Sumber : www.ipersonic.net

Kamis, 13 Februari 2014

Tokoh Kehidupanku

Kamis, 13 Februari 2014

Rita Purbawati S.Pd, M.Pd

        Yak, hari ini aku benar benar  Ingat dengan sosok  pengajar yang selalu hinggap pada pikiran siswa-siswi sekolahku. Beliau seseorang yang sanagat lucu, ramah, serta baik pada siswa. Sering sekali beliau memperjuangkan  hak hak siswa. Sehingga menurut kami beliau adalah seorang SuperHero. Tapi, bagi sesamanya Ia tak jarang dianggap musuh. Karena jaman sekarang banyak sekali yang menjadi guru. Tapi bukan gurunya manusia. Karena mereka tak dapat memanusiakan manusia. Jadi mereka bukan gurunya manusia. Yap, guru itu adalah Ibu (Almh.) Rita Purbawati S.Pd, M.Pd. Tepat setelah wisuda program magisternyanyalah semua ini terasa.\

        Pertama kali aku kenal beliau, beliau adalah sosok yang biasa. Bahakan menjengkelkan tapi selalu bikin saya senyum atau bahakan teratawa. Di awal perkenalan saya adalah waktu saya kelas 3 SMP. Aku mengenalnya di sebuah institusi bimbingan belajar. Beliau sangat kritis terhadap soal soal yang diujikan kepada kami. Menginjak tahun pertama menengah atas. Saya takmenyangkan akan satu sekolahan bersama beliau. Saat itu saya hanya bisa menebak nebak keliatannya saya pernah kenal guru ini tapi dimana ya? . Sejenak aku mengingat dan ternyata aku tak ingat.

        Yang lebih tak ku sangka beliau menjadi wali kelasku. Sungguh tahun pertama yang sangat mengejutkan sekaligus menggelikan. Aku pun pindah ke kelas akselerasi waktuitu masih ada. Aku sudah mulai paham dengan akselerasi dan apa apa yang ada didalamnya.  Waktu berlalu begitu saja, akhirnya aku tak kuat untuk menahan rasa ingin keluar dari kelas percepatan itu. Maka, ceritalah aku ke wali kelasku yang dulu (Bu rita) karena aku merasa tak nyaman dengan waliku yang baru (Pak Imron).

        2 minggu kemudian aku dipanggil oleh Pak Imron mengenai keluarnya aku. Emang sih sedih meninggalkan teman teman hebat yang ada di aksel. Tapi aku lebih mengedapankan perkembangan psikis, tingkat stress, dan manajemen tugasku serta soft skill ku dalam berorganisasi berhubungan waktu itu. Siswa aksel secara tidak langsung dilarang mengikuti pola pelatihan pengembangan karakter, minat, bakat atau yang disebut Berorganisasi.

Aku kembali ke kelasku yang dulu. Pandanganku tetap tidak berubah karena aku masih memandang diriku rendah dan tak berharga. Dan dipilihlah aku menjadi ketua kelas berdasarkan usulan bu rita ini. Selain menjadi wali kelas, beliau juga menjadi pengawas teater yang saat itu adalah pengembangan bakat yang saya ikuti. Sejak saat itulah hubungan ini terbina dengan sendirinya. Selama awal tahun menengah ini aku sering bolos. Sungguh, terlalu sering tidak masuk karena malas sekolah. Malas ini bukan tanpa sebab sebenarnya tapi karena aku punya sejenis gangguan jiwa yaitu skizofrenia. Dan tak pernah ada yang tau kecuali beberapa orang sebelum saya menulis ini.

Beberapa ketidakmasukanku ada suratnya karena diminta oleh guru yang lain. Tapi total ada sekitar sebulan bolosku ini. Aku menyebutnya bolos karena menurutku orang yang normal akan mengira aku sehat secara fisik. Makanya aku bicara disini menggunakan bahasa berpikirnya para orang yang normal. Aku sudah mengira tak akan naik kelas. Seandainya aku naik kelas rasanya itu benar benar sebuah keajaiban tuhan yang diberikan kepada saya melalui malaikatnya sehingga bisa merubah goresan tinta berupa huruf “A” yang berarti alpha bisa berubah.

Hari penerimaan raport merupakan hari yang sangat mengerikan bagi saya. Bagi anak lain penerimaan raport bisa diambil karena orang tua mereka masih ada dan mau ngurusi anaknya. Tapi tidak dengan saya. Saya merasa sangat berat untuk mengambil hasil studi saya selama satu tahun itu.            Akhirnya saya memberanikan diri mendekati kelas dan mulai mengintip apa yang terjadi dalam kelas. Ternyata ada pengarahan dari wali kelas kepada wali murid yang saat itu hadir. Saya hanya menguping dari luar saja. Setelah semua wali murid saya lihat sudah keluar semua. Saya baru berani menemui bu rita di dalam kelas yang saat itu menunggu wali murid lain yang mungkin akan hadir mengambil hasil studi anaknya tercinta.

        Di dalam kelas saya benar benar merasa malu saat beliau bertanya “Lho, bapak dimana to nul?” serasa ditelanjangi didepan umum tapi dengan senyum dan sakit hati saya bilang, “bapak lagi kerja, bu. Mboten(tidak) saget(bisa) diganggu”. Sedangakan beliau hanya menepuk bahu saya sambil berkata, “iyo le, aku paham kok. Sabar ya.” Lalu saya hanya miris lalu salaman dengan bu guru lalu lari meninggalkan kelas. Nilaiku saat itu merupakanyang tertinggi ke dua dari bawah. Dan tak ku sangka kertas itu menyatakan aku berhak naik kelas.

        Air mata ini menetes saat aku membukanya lalu membacanya. Benar benar seorang malaikat tuhan dari langit yang telah merubah absenku. Subhanalloh banget. Saat itu aku masih tak tau siapa malaikat berwujud manusia yang telah membantu seorang lelaki lemah sakit sakitan dan selalu ngeles tiap ditanya sakit apa ini. Seakan masih tak percaya akan keajaiban yang terjadi. Aku masih membacanya ketika malam datang dan masih saja terharu.

        Naiklah aku ke kelas ke dua menegah atas. Pada tahun ini wali kelasku bu rita lagi. Entah kenapa. Rasanya seperti ditakdirkan untuk bertemu lagi padahal dalam penentuan wali kelas selalu diacak. Hari hari berlalu biasa saja bahkan lebih buruk. Di tahun kedua ini aku malah lebih sering kambuh. Intesitasnya itu lebih tinggi daripada waktu kelas pertama. Emang sih kata psikiater itu akan mulai nampak pada umur tujuh belas tahun dan akan semakin terlihat jelas saat umur semakin bertambah. Saat itu aku masih rutin minum obat penenang padahal. Semester tiga ini terasa lebih berat daripada semester sebelumnya. Sungguh tak bisa ditebak kejadianya. Sepertinya hidup memang seperti itu. Tapi entahlah.


        Naiklah ke semester berikutnya.. yakni semester keempat ini adalah masa masa sulit. Bahkan tersulit. Tapi sangatlah terkenang. Karena ada tugas yang dapat mengentalkan kekerabatan pertemanan kami. Bersambung…